Syafaat

Analis Data dan Informasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Pernah menjadi Ketua Lembaga Pendidikan dan Sosia...

Selengkapnya
Jihad Politik

Jihad Politik

Saat masih kecil saya sering mendengar bahwa kita jika sedang diakali seseorang dikatakan bahwa kita di politiki, orang yang pandai menipu dikatakan pinter politik, pokoknya politik diartikan minteri, ngakali, licik dan lain-lain. Setelah dewasa sayapun tidak tahu arti yang sebenarnya dari politik itu sendiri, sebab sebagai anaknya wong ndeso otak saya juga ndeso. Jadi tidak begitu mafhum dengan istilah dan dunia politik. Apakah sama dengan yang saya dengar waktu kecil yang identik dengan hal-hal yang kurang baik, atau ada arti lain yang lebih ilmiah dan tidak melulu negatif, tidak seperti yang saya dengar sejak kecil yang mengartikan politik seperti diatas. Saya yakin ada arti yang sesungguhnya dari kata politik tersebut yang mungkin hanya orang yang berpendidikan saja yang ngerti, apakah politik itu serangkaian tata cara untuk mengatur pemerintahan atau segala sesuatu yang mengenai pemerintahan. Apakah arti politik itu satu kata yang mempunyai dua arti yang berberda, yang satu berarti yang berhubungan dengan pemerintahan sedangkan yang satu berupa kelicikan, ngakali, ataukah mungkin politik itu satu kata yang mempunyai kata berbeda gabungan dari dua pengertian dimaksud yang saling terhubungan, artinya apa mungkin arti Politik adalah suatu yang berhubungan dengan pemerintahan yang dapat menggunakan kelicikan, minteri dan ngakali. Barangkali para pengurus partai politik dan atau politikus (yakni politik-us artinya pemain politik bukan Poli-tikus) perlu mensosialisasikan arti daripada Politik dan Partai Politik, sehingga masyarakat terutama warga ndeso tidak mengartikan partai politik itu kumpulan orang yang pandai ngakali dan minteri, atau tempat berkumpulnya para tikus. Politik itu orang yang dipilih untuk ikut menjalankan tata pemerintahan, dan bukan pegawai pemerintahan.

Jika Politik diartikan ngakali, maka jangan harap janji politisi yang dikatakan saat kampanye akan ditepati, sebab ngakali itu hampir identik dengan menipu, apalagi jika politik ketemu dengan politik sama dengan penipu ketemu penipu, jika tidak menipu maka dia akan tertipu. Namun jika Politik diartikan yang berkaitan dengan tatacara pemerintahan yang dipilih oleh rakyat, maka Politikus adalah orang yang terhormat yang menentukan kebijakan pemerintahan, dan Partai Politik adalah organisasi yang berhak mengajukan calon anggota legislatif, sebagai peserta pemilu yang berhak untuk mengajukan calon yang akan dipilih masyarakat, dimana yang berhak mendaftarkan cal;on anggota legislatife ke KPU adalah Partai Politik, Bukan Organisasi Olahraga atau Organisasi Keagamaan.

Saya sangat tertarik dengan istilah yang menurut saya adalah istilah baru yang disampaikan salah satu calon anggota legislatife, dan calon anggota legislatif ini sebenarnya sudah pernah menjabat sebagai anggota legislatif lebih dari satu periode, dengan partai pengusung yang berbeda, yang menyampaikan bahwa keikut sertaannya dalam pemilihan calon anggota legislatif dalam rangka Jihad Politik.

Sungguh sebuah istilah baru yang sampai saat ini saya tidak mengerti dengan yang dimaksud dengan istilah Jihad Politik tersebut, dan mengapa harus menggunakan kata jihad dalam berpolitik untuk memperebutkan kursi legislatif, sungguh menurut saya merupakan rangkaian kata yang tidak nyambung, dan membuat saya penasaran untuk terus mengorek maksud yang sebenarnya dari calon anggota legislatif tersebut yang mempopulerkan istilah Jihad Politik.

Dengan seringnya diadakan Pemilihan, yang lima tahun minimal ada empat kali pemilihan, yakni Pemilihan Wakil Rakyat (DPR, DPD), dan Presiden, Pemilihan Gubernur dan Pemilihan Bupati, belum lagi ditambah dengan pemilihan Kepala Desa, ada kejenuhan bagi pemilih untuk menggunakan hak pilihnya, sebab sebagian merasa bahwa pemilu termasuk pemilukada belum dirasakan artinya dari pemilihan langsung tersebut. Namun bagi sebagian yang lain, bagi Panitia pemilu, Tim Sukses, pemilik percetakan sangat senang dengan adanya banyak pemilu, sebab dengan banyaknya pemilu maka banyak peluang untuk menambah penghasilan.

Tidak sedikit dana yang dibutuhkan bagi tiap tiap calon, dari sosialisasi mengenalkan diri kepada masyarakat, baik melalui banner, kalender, spanduk, dan lain lain, belum lagi membentuk Team sukses, dana sosialisasi masyarakat dan lain lain yang kesemuanya memerlukan dana yang tidak sedikit. Bagi Calon yang sudah menjabat, dana yang dibutuhkan relative sedikit, sebab disamping sudah dikenal masyarakat, juga banyak yang memanfaatkan dana dan kegiatan APBD untuk (numpang) kampanye. Bagi Calon anggota Legislatif pemula yang sebelumnya belum begitu dikenal oleh masyarakat, akan diperlukan lebih banyak dana dan biaya untuk meraih simpati masyarakat, Maka tidak heran jika ada istilah tidak mungkin orang miskin jadi anggota legislatif, yang mungkin adalah orang bisa miskin karena kalah pemilihan anggota legislatif.

Penyampaian program, visi dan misi adalah hal yang harus dilakukan oleh para calon, dengan demikian masyarakat akan tahu perkiraan apa yang akan dilakukan oleh calon tersebut jika nantinya benar benar terpilih sebagai anggota legislatif. Meskipun masyarakat tidak begitu mudeng dengan program, kiemampuan personal, visi maupun misi, atau banyak yang tidak percaya dengan janji-janji politisi, namun bagaimanapun juga visi misi dan janji harus disampaikan, dan masyarakat akan mencoba menagih dan mengingatnya, mungkin saja janji janji itu akan ditepati. Dan jika tidak ditepati, maka pada pemilihan berikutnya jika mencalonkan lagi tidak akan dipilih kembali.

Banyaknya dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan impian para caleg melenggang ke gedung dewan, mengakibatkan orang yang mempunyai kemampuan sebagai anggota dewan secara intelektual, namun tidak didukung modal, akan sulit untuk menjadi anggota dewan. Dan akibatnya anggota dewan akan banyak diisi oleh orang orang cara mendapatkan kedudukan tersebut dengan modal dana yang cukup besar. Dan (mungkin) inilah yang mengakibatkan banyaknya anggota dewan yang terseret kasus korupsi dari akibat cost yang besar dalam mendapatkan kursi legislatif.

Ini juga mungkin yang dimaksud dengan Jihad Politik, menjadi anggota legislatif dengan tidak mengeluarkan biaya yang cukup tinggi, sehingga tidak memikirkan bagaimana cara mengembalikan modal yang telah dikeluarkannya, memilih anggota legislatif yang kemungkinannya paling kecil untuk melakukan korupsi.

Banyaknya anggota legislatif dan politisi yang terjerat kasu korupsi, mengakibatkan berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap politisi, sehingga meskipun masih ada anggota legislatif yang tidak melakukan tindakan korupsi, masih ada anggota legislatif yang mau memperjuangkan kepentingan rakyat, namun karena rakyat terlanjur tidak percaya terhadap legislatif, sehingga banyak rakyat yang mau memilih anggota legislatif dengan imbalan tertentu, baik langsung maupun tidak langsung yang diberikan calon anggota legislatif sebelum pemilihan, mereka takut jika setelah terpilih, calon anggota dewan tersebut lupa dengan janjinya, sehingga rakyat banyak yang meminta imbalan didepan untuk memilih anggota legislatif.

Jihad Politik dalam Pemilu 2019 untuk tidak melakukan money politic, baik langsung maupun tidak langsung sangatlah berat, baik bagi calon anggota legislatif maupun masyarakat, hal ini diakibatkan dengan ulah anggota legislatif yang banyak mencederai kepercayaan masyarakat yang telah diamanahkan kepadanya, sehingga ada istilah dari masyarakat yang tidak mau mendorong mobil mogok, dimana setelah mobil bisa berjalan, para pendorong ditinggalkan tanpa rasa terima kasih.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali